Grand
Oleh; Dr. H. Roni Faslah, M. A
Dosen STIT Syekh Burhanuddin
Pariaman, 1 Agustus 2026 – Hari ini, Sabtu (1/8/2026), STIT Syekh Burhanuddin Pariaman secara resmi melaunching Program Studi Magister (S2) Pendidikan Agama Islam (PAI). Peristiwa bersejarah ini menandai babak baru perjalanan kampus yang didirikan oleh para ulama dan tokoh masyarakat sejak tahun 1978 dalam memperluas akses pendidikan tinggi Islam hingga jenjang pascasarjana. Kehadiran program magister ini merupakan hasil perjuangan panjang, pengorbanan, dan ikhtiar bersama seluruh civitas akademika serta dukungan berbagai pihak yang selama ini berkomitmen terhadap kemajuan pendidikan Islam di Sumatera Barat.
Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan. Hadir dalam acara tersebut unsur Pemerintah Kota Pariaman dan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, para alim ulama, tokoh masyarakat, pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, jajaran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), pimpinan pondok pesantren, pimpinan lembaga pendidikan, organisasi sosial kemasyarakatan, para rektor dan ketua perguruan tinggi negeri maupun swasta di Sumatera Barat, serta berbagai tokoh yang selama ini memberikan perhatian terhadap pengembangan pendidikan Islam.
Momentum bersejarah ini semakin istimewa dengan kehadiran Kopertais Wilayah VI Sumatera Barat yang selama ini menjadi mitra strategis dalam pembinaan dan pengembangan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS). Kehadiran berbagai unsur pemerintah, akademisi, ulama, dan tokoh masyarakat tersebut menunjukkan dukungan yang kuat terhadap pengembangan pendidikan tinggi Islam yang dilakukan STIT Syekh Burhanuddin Pariaman.
Perjalanan Panjang Sejak Tahun 1978
Dalam sambutannya, Ketua STIT Syekh Burhanuddin Pariaman, Dr. Neni Triana, M.Pd., mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas terlaksananya Grand Launching Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam yang telah lama menjadi cita-cita bersama.
Mengawali sambutannya, beliau menyampaikan sebuah pantun. Beliau kemudian menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang telah hadir pada momentum bersejarah tersebut.
Menurut Dr. Neni Triana, peluncuran Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam bukan sekadar pembukaan program studi baru, tetapi merupakan buah dari perjalanan panjang yang telah dirintis oleh para pendiri lembaga sejak puluhan tahun silam.
Beliau menjelaskan bahwa pada tahun 1978, para ulama dan tokoh masyarakat mencetuskan sebuah gagasan besar untuk membangun lembaga pendidikan Islam yang mampu mewariskan ilmu pengetahuan, nilai-nilai keislaman, dan tradisi intelektual kepada generasi berikutnya.
“Tahun 1978 para ulama dan tokoh masyarakat telah mencetuskan sebuah gagasan besar untuk membangun lembaga pendidikan yang menjadi pusat pewarisan ilmu dan nilai-nilai Islam. Dari cita-cita itulah perjalanan panjang ini dimulai. Alhamdulillah, hari ini lembaga yang mereka rintis masih berdiri tegak dan terus berkembang,” ungkapnya.
Beliau menegaskan bahwa usia lembaga yang telah mencapai 48 tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Berbagai tantangan, keterbatasan, dan dinamika zaman telah dilalui dengan penuh kesabaran, keteguhan, dan pengorbanan.
“Program Magister Pendidikan Agama Islam ini tidak datang dengan sendirinya. Di balik berdirinya program ini terdapat perjuangan yang panjang, pengorbanan yang besar, serta penantian yang tidak singkat. Banyak pihak yang telah mencurahkan tenaga, pikiran, waktu, dan doa demi terwujudnya cita-cita besar ini. Karena itu, hari ini merupakan hari syukur bagi kita semua,” tambahnya.
Lebih lanjut, Dr. Neni Triana menyampaikan bahwa Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam merupakan langkah awal pengembangan pendidikan pascasarjana di lingkungan STIT Syekh Burhanuddin Pariaman. Institusi juga telah menyiapkan dua program studi magister lainnya, yaitu Magister Manajemen Haji dan Umrah serta Magister Hukum Keluarga Islam.
Pada kesempatan yang sama, beliau mengumumkan penunjukan Dr. Riddo Andini sebagai Ketua Program Studi Magister (S2) Pendidikan Agama Islam.
Yayasan: Ruh Keulamaan Syekh Burhanuddin Harus Terus Dirawat
Ketua Yayasan Islamic Center Padang Pariaman, Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag., menyampaikan bahwa keberhasilan menghadirkan Program Studi Magister PAI merupakan bagian dari perkembangan lembaga yang telah berusia hampir setengah abad.
“Perguruan tinggi ini telah berjalan hampir setengah abad. Karena itu, semestinya terus berkembang dari tahun ke tahun. Sebuah lembaga pendidikan tidak boleh berhenti pada satu capaian, tetapi harus terus bergerak maju agar mampu menjawab kebutuhan umat dan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, STIT Syekh Burhanuddin Pariaman merupakan warisan besar dari ketokohan dan keulamaan Syekh Burhanuddin yang harus terus dijaga dan dikembangkan.
“Ini adalah legacy besar dari ketokohan Syekh Burhanuddin. Di dalamnya ada nilai keulamaan, tradisi keilmuan, akhlak, dan perjuangan dakwah yang diwariskan kepada kita. Karena itu, ruh Syekh Burhanuddin harus terus dirawat. Ruh keulamaan, ruh keilmuan, dan ruh pengabdian kepada masyarakat tidak boleh hilang dari perjalanan lembaga ini,” tegasnya.
Prof. Duski Samad menjelaskan bahwa yayasan memiliki tiga fungsi utama. Pertama sebagai badan penyelenggara yang memastikan arah dan pengembangan lembaga tetap berada pada jalur yang benar. Kedua, mengayomi dan memberikan kenyamanan kepada pimpinan serta seluruh unsur yang bekerja di kampus.
“Pimpinan harus diberikan kepercayaan dan otoritas penuh untuk bekerja, berinovasi, dan mengambil keputusan strategis demi kemajuan kampus. Yayasan hadir untuk mendukung, bukan membatasi. Kami ingin menciptakan suasana yang kondusif agar pimpinan dapat bekerja secara maksimal,” jelasnya.
Selain itu, yayasan juga mendorong perluasan jejaring kerja sama dengan berbagai instansi pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi sosial keagamaan, dunia usaha, dan berbagai mitra lainnya.
“Kampus harus membangun networking yang luas. Semakin luas jaringan yang dibangun, semakin besar peluang kampus untuk berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Tugas ketiga yayasan, lanjut Prof. Duski Samad, adalah mendorong berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan reputasi dan popularitas kampus.
“Kita harus menghadirkan berbagai kegiatan yang mampu mengangkat nama kampus dan memperkuat branding keulamaan Syekh Burhanuddin. Launching buku, seminar nasional dan internasional, kajian ilmiah, publikasi akademik, dan berbagai kegiatan intelektual harus terus dilakukan.”
Ia juga menegaskan pentingnya pengembangan program unggulan kampus seperti Program Tuanku dan Sarjana Tuanku yang menjadi ciri khas STIT Syekh Burhanuddin Pariaman.
“Kita ingin melahirkan generasi yang tidak hanya sarjana secara akademik, tetapi juga memiliki karakter keulamaan, kepemimpinan, dan pengabdian kepada masyarakat. Program Tuanku dan Sarjana Tuanku harus menjadi identitas kampus yang terus dikembangkan untuk membangun masa depan lembaga yang lebih maju,” katanya.
Kopertais Apresiasi dan Dukung Alih Status Menjadi Institut
Sementara itu, Sekretaris Kopertais Wilayah VI Sumatera Barat, M. Fadli, menyampaikan ucapan selamat atas keberhasilan STIT Syekh Burhanuddin Pariaman memperoleh izin dan melaunching Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam.
“Atas nama Kopertais Wilayah VI Sumatera Barat, kami mengucapkan selamat kepada STIT Syekh Burhanuddin Pariaman atas launching Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam. Ini merupakan capaian yang patut disyukuri dan menjadi langkah penting dalam pengembangan institusi ke depan,” ujarnya.
M. Fadli mengungkapkan bahwa dalam proses pengajuan program studi tersebut, pihaknya sempat merasa khawatir karena beberapa kampus lain yang mengajukan pada waktu yang hampir bersamaan telah lebih dahulu menerima izin operasional.
“Terus terang, pada awalnya kami sempat khawatir. Beberapa kampus yang mengajukan pada waktu yang hampir bersamaan sudah terlebih dahulu menerima izin. Namun alhamdulillah, tidak berselang lama, Surat Keputusan Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam STIT Syekh Burhanuddin Pariaman akhirnya resmi diterbitkan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia. Ini tentu menjadi kabar yang sangat menggembirakan bagi kita semua,” ungkapnya.
Ia memberikan apresiasi terhadap inovasi yang dimiliki STIT Syekh Burhanuddin Pariaman, terutama Program Tuanku dan Sarjana Tuanku yang dinilainya unik dan belum dimiliki kampus lain.
“Kami memberikan apresiasi yang tinggi kepada STIT Syekh Burhanuddin Pariaman. Program Tuanku dan Sarjana Tuanku merupakan inovasi yang sangat menarik. Sejauh yang kami ketahui, belum ada kampus lain yang memiliki program seperti ini. Program tersebut menjadi identitas sekaligus kekuatan kampus dalam mengintegrasikan tradisi keulamaan dengan pendidikan tinggi modern,” katanya.
Menurutnya, kehadiran Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam akan semakin memperluas ruang pengembangan keilmuan di kampus.
“Hari ini jalan semakin terbuka dan semakin luas. Jika sebelumnya kita berbicara tentang Tuanku yang menjadi sarjana, maka sekarang Tuanku juga dapat menjadi magister. Ini akan semakin memperkuat kapasitas keilmuan, intelektualitas, dan kepemimpinan umat di masa depan,” ujarnya.
M. Fadli juga mengungkapkan harapannya agar STIT Syekh Burhanuddin Pariaman segera bertransformasi menjadi Institut Agama Islam (IAI) Syekh Burhanuddin Pariaman.
“Kami berharap mulai hari ini hingga Agustus tahun depan, STIT Syekh Burhanuddin Pariaman dapat mewujudkan cita-cita menjadi Institut Agama Islam Syekh Burhanuddin Pariaman. Proposal alih statusnya sudah berada di meja kami dan insya Allah akan diproses dalam waktu dekat sesuai ketentuan yang berlaku,” jelasnya.
Menutup sambutannya, M. Fadli menegaskan pentingnya percepatan dan inovasi dalam pengembangan perguruan tinggi.
“Kalau kita ingin maju, kita harus berlari. Kita tidak bisa hanya berjalan biasa-biasa saja. Perubahan bergerak sangat cepat, dan perguruan tinggi harus mampu meresponsnya dengan kerja keras, inovasi, dan langkah-langkah strategis.”
Peluncuran Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam ini menjadi bukti bahwa cita-cita para ulama dan tokoh masyarakat yang dirintis sejak tahun 1978 terus tumbuh dan berkembang. Dengan hadirnya program magister, rencana pembukaan Program Magister Manajemen Haji dan Umrah serta Magister Hukum Keluarga Islam, dan harapan alih status menjadi Institut Agama Islam Syekh Burhanuddin Pariaman, kampus ini semakin meneguhkan posisinya sebagai pusat pendidikan tinggi Islam yang unggul, berakar pada tradisi keulamaan, serta berorientasi pada kemajuan umat, bangsa, dan negara. Rf.010826





