Ansor Tutup Kaderisasi Nasional 2026 di Makam Mbah Wahab, Tempat Muktamar ke-35 NU

Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (PP GP Ansor) tengah meneguhkan langkah besar untuk melahirkan cetak biru kepemimpinan nasional. Melalui Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Angkatan XI Tahun 2026 yang digelar di Pesantren Bumi Sholawat Progresif, Sidoarjo, Jawa Timur, (6-12/7/26).

Ketua Umum PP GP Ansor, Dr H Addin Jauharudin menegaskan bahwa kaderisasi merupakan jangkar organisasi. Ia mengunci mimpi-mimpi baru organisasi di
tengah zaman yang berubah dan keragaman kader.

“Ansor adalah rumah terbuka, mimpi apapun bisa kita cetak. Tempat berkumpulnya harapan, itulah organisasi. Kedepan, seluruh instrumen dan struktur Ansor harus hadir dengan kemampuan-kemampuan barunya,” tegas Addin.

Selain itu, Addin menilai tantangan Ansor masa depan semakin menghebat. Menurutnya, Indonesia akan menghadapi perubahan dimana muncul masyarakat tanpa
nilai, bahkan masyarakat tanpa organisasi.

“Bagaimana kita menggerakkan orang dengan ide dan karya kita, bahkan tanpa kita harus bergerak secara fisik? Seorang pemimpin itu adalah pemimpin ide,” cetus Addin.

Doktor bidang Ilmu Manajemen Strategis Universitas Brawijaya itu menolak kepengurusan yang berjalan biasa-biasa saja dan menginstruksikan penciptaan ritme
organisasi yang luar biasa dengan menggerakkan seluruh struktur tanpa terkecuali.

Dalam mendorong kapasitas kader, Addin menggarisbawahi bahwa kunci utama kemakmuran ekonomi adalah kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Secara konkret, Addin menginstruksikan jajaran struktur untuk masif membangun “sekolah pelatihan” mandiri demi menciptakan lapangan kerja baru.

“Tidak boleh ada lahan dan orang yang nganggur. Semua aset harus
bisa kita kelola secara maksimal. Itulah fungsi kepemimpinan, ” kata Addin.

Senada dengan itu, Aminuddin Ma’ruf, Wakil Menteri Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus kader Ansor mengamini hal tersebut ketika turut hadir sebagai narasumber, Kamis (9/7/2026).

Amin menegaskan bahwa setiap transformasi besar wajib berakar pada integritas niat dan ketajaman visi. Mengutip QS. Ar-Ra’d ayat 11, ia membedah bagaimana institusi seperti BUMN melakukan streamlining radikal —menyederhanakan portofolio dari 1.074 entitas menjadi kisaran 281 entitas di tahun 2026 demi efisiensi dan tata kelola yang ramping.

“Organisasi yang besar tidak boleh terjebak dalam kompleksitas birokrasi internal yang mengaburkan mandat utamanya. Begitu pula dengan GP Ansor,” ujar Amin.

PKN Angkatan XI Sidoarjo ini dinilai cukup unik karena turut menghadirkan teknokrat, profesional hingga tiga guru besar terkemuka sebagai narasumber: Prof. Drs. Ec. Abdul Mongid, MA., Ph.D. (Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Airlangga), Prof. Mas’ud Said, MM., Ph.D. (Guru Besar Ilmu Pemerintahan & Direktur Pascasarjana UNISMA), dan Prof. Dr. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D. (Guru Besar Biologi Molekular & Rektor Universitas Brawijaya).

“Kehadiran para akademisi lintas disiplin ini sengaja dilibatkan untuk memperluas cakrawala berpikir para kader, baik dari aspek manajemen modern, tata kelola
pemerintahan, hingga sains global,” jabar Addin.

PKN XI Sidoarjo dibuka di Pondok Pesantren Bumi Sholawat Progresif Sidoarjo pada 7 Juli 2026 dan ditutup di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang Jawa Timur.

Menurut Addin, Tambakberas merupakan pesantren yang
melahirkan pencetus embrio Nahdlatul Ulama yaitu KH
Wahab Hasbullah, pun inisiator berdirinya GP Ansor. Di samping Muktamar ke-35 NU yang juga akan digelar di sana pada 27-31 Agustus 2026.

“Mbah Wahab selain pendiri NU, juga pendiri Ansor. Dan kita telah melakukan tirakat sepeda dari Bangkalan ke Jombang. Maka harapan besarnya Ansor akan menjadi penggerak organisasi seperti teladan dari Mbah Wahab. Selain itu, tanggung jawab kita, Ansor Banser adalah memastikan muktamar berjalan dengan aman dan sukses,” tandas Addin.

Penulis : Tata Handika, M.Ag

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *