Dari Pesantren Menuju Kampus Menyiapkan Generasi Ulama Masa Depan
Ada sebuah pertanyaan yang mungkin jarang kita ajukan: setelah seorang santri menyelesaikan pendidikan di pesantren, ke mana langkah berikutnya? Apakah perjalanan menuntut ilmu sudah selesai, atau justru pesantren menjadi awal untuk melangkah lebih jauh?
Menurut saya, pesantren bukan garis akhir pendidikan, tetapi fondasi untuk melanjutkan perjalanan ilmu. Dari pesantren, seorang santri dibentuk dengan ilmu agama, adab, kedisiplinan, kemandirian, dan tradisi pengabdian. Setelah itu, perguruan tinggi dapat menjadi ruang untuk memperluas wawasan dan memperkuat kapasitas agar mampu menjawab kebutuhan zaman.
Hari ini kita hidup dalam perubahan yang begitu cepat. Generasi muda mendapatkan informasi dari berbagai sumber, termasuk media sosial dan teknologi digital. Di tengah kondisi seperti ini, umat membutuhkan tokoh yang bukan hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi juga mampu memahami karakter generasi baru, perkembangan teknologi, komunikasi, pendidikan, dan perubahan sosial.
Ulama masa depan tidak cukup hanya mampu membaca kitab, tetapi juga harus mampu membaca zaman.
Karena itu, alumni pesantren memiliki peluang besar untuk mengambil peran tersebut. Mereka sudah memiliki fondasi keagamaan dan pengalaman kehidupan pesantren. Tinggal bagaimana fondasi itu dikembangkan melalui pendidikan yang lebih tinggi sehingga lahir pribadi yang semakin matang secara keilmuan, semakin luas wawasannya, dan semakin kuat kemampuan pengabdiannya kepada masyarakat.
Dalam konteks inilah STIT Syekh Burhanuddin Pariaman memiliki posisi yang sangat penting. Kampus ini dapat menjadi jembatan bagi alumni pesantren untuk melanjutkan perjalanan keilmuan, bukan untuk meninggalkan tradisi pesantren, tetapi justru untuk memperkuatnya dengan wawasan akademik dan kemampuan menghadapi perkembangan zaman.
Nama Syekh Burhanuddin yang melekat pada kampus tersebut juga memiliki makna yang besar. Syekh Burhanuddin merupakan bagian penting dari sejarah perkembangan Islam dan tradisi keilmuan di Minangkabau. Karena itu, semangat keilmuan yang diwariskan tidak cukup hanya dikenang sebagai sejarah, tetapi harus diteruskan melalui generasi baru yang memiliki kapasitas untuk menghadapi masa depan.
Program Tuanku Sarjana menjadi salah satu kesempatan untuk membangun arah tersebut. Alumni pesantren, surau, madrasah, dan para tuanku dapat melihat pendidikan tinggi sebagai kelanjutan dari perjalanan ilmu yang telah mereka tempuh.
Namun, jangan sampai cita-cita itu berhenti setelah memperoleh gelar S1.
S1 harus menjadi pijakan untuk berpikir lebih jauh menuju S2. Setelah S2, bagi mereka yang memiliki kemampuan dan kesempatan, mengapa tidak melanjutkan ke S3?
Pola pikir seperti ini perlu ditanamkan sejak sekarang. Kita jangan hanya bercita-cita melahirkan banyak sarjana dari pesantren. Kita harus mulai membangun cita-cita yang lebih besar: melahirkan semakin banyak magister dan doktor dari kalangan alumni pesantren yang kemudian menjadi pendidik, dosen, peneliti, intelektual Muslim, dai, dan ulama.
Bayangkan jika semakin banyak alumni pesantren melanjutkan pendidikan hingga S2 dan S3. Mereka dapat kembali ke pesantren membawa wawasan baru, mengembangkan madrasah, menulis buku, melakukan penelitian, mendidik generasi muda, dan berdakwah dengan memanfaatkan teknologi.
Itulah investasi ilmu yang sesungguhnya.
Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 122:
“Hendaklah ada segolongan dari tiap-tiap golongan di antara mereka yang memperdalam pengetahuan agama.”
Ayat ini memberikan gambaran bahwa umat membutuhkan orang-orang yang bersungguh-sungguh memperdalam ilmu untuk kemudian memberikan pemahaman kepada masyarakat.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan mencari ilmu tidak mengenal kata selesai. Selama masih memiliki kesempatan, ilmu harus terus dikejar, diperdalam, dan diamalkan.
Karena itu, pendidikan tinggi bagi alumni pesantren jangan hanya dipandang sebagai jalan memperoleh ijazah. Lebih dari itu, pendidikan merupakan bagian dari mempersiapkan kepemimpinan umat di masa depan.
Kita membutuhkan ulama yang memahami agama sekaligus memahami masyarakat. Ulama yang mampu berdakwah di masjid, tetapi juga mampu hadir di ruang digital. Ulama yang memiliki kedalaman ilmu, tetapi juga mampu berdialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan persoalan kehidupan modern.
Ulama masa depan harus mampu menjaga tradisi tanpa terjebak pada masa lalu, sekaligus mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan jati diri.
Di sinilah STIT Syekh Burhanuddin Pariaman memiliki peluang besar untuk mengambil bagian. Kampus ini dapat menjadi salah satu ruang yang mempertemukan tradisi keilmuan Islam dengan kebutuhan pendidikan modern.
Maka, kepada alumni pesantren, jangan berpikir bahwa pendidikan selesai ketika sudah mendapatkan S1.
Beranilah berpikir lebih jauh.
S1 adalah awal. S2 adalah langkah berikutnya. S3 adalah cita-cita bagi mereka yang memiliki kesempatan. Dan pengabdian kepada umat adalah tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar gelar.
Sebab kita tidak boleh hanya bangga dengan ulama yang telah lahir pada masa lalu, tetapi lupa mempersiapkan siapa yang akan meneruskan perjuangan mereka.
Warisan ilmu tidak boleh berhenti pada satu generasi.
Pesantren memberikan akar. Kampus memperluas cakrawala. S1 menjadi pijakan. S2 memperdalam keilmuan. S3 memperkuat tradisi akademik. Dan pengabdian menjadi tujuan.
Pada akhirnya, kita tidak hanya berharap lahirnya lebih banyak sarjana. Kita harus berani bermimpi lebih besar: lahirnya generasi ulama yang berilmu, berakhlak, memiliki wawasan luas, memahami perkembangan zaman, dan mampu menjadi penerang bagi umat.
Dan dari STIT Syekh Burhanuddin Pariaman, perjalanan itu dapat terus dilanjutkan: dari pesantren menuju kampus, dari santri menuju sarjana, dari sarjana menuju magister, dari magister menuju doktor, dan dari ilmu menuju pengabdian.





