PARIAMAN — Perjalanan seorang mahasiswa tidak hanya berlangsung di ruang kuliah, di antara buku-buku, diskusi akademik, dan tugas perkuliahan. Ada pula proses pembelajaran yang tumbuh dari ruang-ruang organisasi: ketika gagasan dipertemukan, perbedaan pandangan dikelola, dan tanggung jawab dipelajari melalui pengalaman bersama.
Bagi Ahmad Fadly, mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Institut Agama Islam Sumatera Barat (IAI Sumbar), Pariaman, organisasi mahasiswa menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Namanya tercatat dalam sejumlah fase kehidupan organisasi kampus, mulai dari Himpunan Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, kepengurusan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), pencalonan Presiden DEMA periode 2024–2025, hingga menjabat sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa periode 2025–2026.
Rentang perjalanan itu bukan sekadar pergantian jabatan. Ia menjadi catatan tentang keterlibatan seorang mahasiswa dalam dinamika kehidupan kampus yang terus bergerak, dengan tanggung jawab dan tantangan yang berbeda pada setiap tahapnya.
*Berangkat dari Himpunan, Bertumbuh dalam Pengalaman*
Pada periode 2023–2024, Ahmad Fadly menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Pengangkatan kepengurusan tersebut merujuk pada Surat Keputusan Rektor Nomor 431/IAI-SUMBAR/IX/2023.
Himpunan mahasiswa merupakan salah satu ruang terdekat bagi mahasiswa untuk membangun kehidupan kolektif di lingkungan akademik. Di dalamnya, mahasiswa berkesempatan mengembangkan kegiatan keilmuan, mempererat komunikasi antarmahasiswa, dan menghidupkan diskusi yang berkaitan dengan bidang studi.
Dalam lingkungan pendidikan tinggi keislaman, ruang organisasi juga memiliki arti tersendiri. Kajian Al-Qur’an dan tafsir tidak hanya dipelajari sebagai disiplin akademik, tetapi juga menjadi bagian dari proses memahami persoalan manusia dan kehidupan sosial. Organisasi dapat menjadi salah satu tempat bagi mahasiswa untuk belajar mempertemukan pengetahuan, kepedulian, dan tanggung jawab bersama.
Menjadi ketua himpunan menempatkan seorang mahasiswa dalam posisi yang menuntut koordinasi dan keterlibatan aktif. Tugas tersebut tidak hanya berkaitan dengan agenda organisasi, tetapi juga dengan kemampuan mendengarkan anggota, membangun komunikasi, dan menjaga agar kegiatan bersama tetap berjalan.
*Memasuki Lingkup Organisasi Tingkat Institut*
Pada tahun 2023, Ahmad Fadly juga tercatat dalam kepengurusan Dewan Eksekutif Mahasiswa IAI Sumatera Barat periode 2023–2024. Kepengurusan tersebut merujuk pada Surat Keputusan Rektor Nomor 493/IAI-SUMBAR/X/2023 tentang Pengangkatan Dewan Eksekutif Mahasiswa Periode 2023–2024.
Keterlibatan dalam organisasi tingkat institut memperluas ruang aktivitas kemahasiswaan dari lingkungan program studi ke lingkup kampus yang lebih luas. Pada tingkat ini, kehidupan organisasi mempertemukan mahasiswa dengan beragam latar belakang, kebutuhan, dan cara pandang.
Organisasi mahasiswa bukanlah ruang yang selalu berjalan tanpa perbedaan. Di dalamnya terdapat kebutuhan untuk berkomunikasi, menyelaraskan agenda, dan mencari jalan keluar ketika muncul pandangan yang tidak sama. Proses seperti inilah yang membuat pengalaman organisasi memiliki nilai pembelajaran tersendiri bagi mahasiswa.
Karena itu, perjalanan dalam organisasi tidak semata-mata dapat dilihat dari jabatan yang pernah diemban. Pengalaman tersebut juga perlu dipahami sebagai bagian dari proses mengenal tanggung jawab, bekerja bersama orang lain, dan memahami kehidupan kampus dari sudut pandang yang lebih luas.
*Kontestasi Presiden DEMA: Ruang Gagasan dan Partisipasi*
Dinamika organisasi mahasiswa berlanjut ketika Ahmad Fadly mengikuti kontestasi pemilihan Presiden Dewan Eksekutif Mahasiswa IAI Sumatera Barat periode 2024–2025. Dalam pemilihan tersebut, ia maju sebagai kandidat nomor urut 2 bersama Fajri Afrialdi dari Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).
Salah satu tahapan yang tercatat dalam proses pemilihan itu adalah debat pasangan calon yang berlangsung pada 14 September 2024. Forum debat menjadi ruang bagi kandidat untuk menyampaikan gagasan dan pandangan mengenai organisasi mahasiswa di hadapan lingkungan kampus.
Dalam sebuah kontestasi, perhatian publik sering kali tertuju pada nomor urut dan hasil akhir. Namun, proses pemilihan juga memiliki dimensi lain: kesempatan bagi mahasiswa untuk berpartisipasi, mengenali persoalan organisasi, serta mendiskusikan arah kehidupan kemahasiswaan.
Pencalonan Ahmad Fadly menjadi bagian dari rekam jejak keterlibatannya dalam dinamika tersebut. Pencalonan itu perlu dibedakan dari hasil pemilihan, yang tidak dinyatakan dalam profil ini karena belum dikonfirmasi melalui sumber yang memadai.
*Mengemban Amanah sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa*
Perjalanan Ahmad Fadly berlanjut pada periode 2025–2026, ketika ia menjabat sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa IAI Sumatera Barat. Pengangkatan kepengurusan tersebut merujuk pada Surat Keputusan Rektor Nomor 673/IAI-SUMBAR/X/2025.
Jabatan di organisasi tingkat institut membawa tanggung jawab yang berkaitan dengan pelaksanaan fungsi senat mahasiswa sesuai dengan aturan dan struktur organisasi yang berlaku. Dalam menjalankan peran tersebut, koordinasi, komunikasi, serta pemahaman terhadap kebutuhan mahasiswa menjadi bagian penting dari kehidupan organisasi.
Kepemimpinan mahasiswa pada dasarnya berlangsung dekat dengan kehidupan sehari-hari di kampus. Persoalan akademik, aktivitas kemahasiswaan, hubungan antarmahasiswa, dan ruang untuk menyampaikan aspirasi merupakan bagian dari dinamika yang membentuk pengalaman kolektif mahasiswa.
Di ruang inilah jabatan memperoleh maknanya: bukan hanya sebagai posisi dalam struktur organisasi, melainkan sebagai amanah yang perlu dijalankan dengan tanggung jawab. Penilaian terhadap pelaksanaan amanah tersebut tentu memerlukan rekam kerja, program, dan capaian yang dapat diperiksa secara terbuka.
*Lebih dari Sekadar Jabatan*
Jika dirangkai berdasarkan periode dan keterlibatan organisasinya, perjalanan Ahmad Fadly memperlihatkan beberapa tahap dalam kehidupan kemahasiswaan: memimpin himpunan, terlibat dalam kepengurusan DEMA, mengikuti kontestasi Presiden DEMA, dan kemudian menjabat sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa.
Namun, cerita tentang organisasi mahasiswa tidak semestinya berhenti pada daftar jabatan. Di balik struktur kepengurusan, selalu ada proses belajar yang berlangsung melalui pertemuan, diskusi, perbedaan pendapat, serta tanggung jawab terhadap pekerjaan bersama.
Bagi mahasiswa, pengalaman semacam itu dapat menjadi bekal untuk memahami bahwa kepemimpinan bukan hanya perkara berada di depan, tetapi juga tentang kemampuan bekerja bersama dan memberi ruang bagi orang lain untuk terlibat. Meski demikian, kualitas kepemimpinan seseorang tetap perlu dilihat dari tindakan, program, dan hasil kerja yang terdokumentasi, bukan semata-mata dari panjangnya daftar jabatan.
Sebagai mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Ahmad Fadly menjalani pendidikan akademik bersamaan dengan keterlibatannya dalam organisasi kampus. Kedua ruang tersebut membentuk bagian dari perjalanan mahasiswa: ruang kelas sebagai tempat memperdalam ilmu, dan organisasi sebagai tempat menghadapi dinamika kehidupan bersama.
Perjalanan itu masih menjadi bagian dari proses yang terus berlangsung. Pada akhirnya, arti penting keterlibatan dalam organisasi tidak hanya terletak pada posisi yang pernah ditempati, tetapi juga pada apa yang dipelajari, tanggung jawab yang dijalankan, dan kontribusi nyata yang dapat dirasakan oleh lingkungan kampus.





