Dr.Roni Faslah, (Dosen Pascasarjana S2 PAI STIT SB Pariaman)
Iran merupakan negara besar dan kuat Ia juga memiliki sejumlah modal strategis yang membuatnya mampu bertahan dan memberikan perlawanan terhadap tekanan Amerika Serikat dan Israel. Modal tersebut tidak hanya berupa kekuatan militer, tetapi juga mencakup ideologi, ekonomi, teknologi, geopolitik, pengalaman perang, serta jaringan aliansi regional yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Pertama, Iran memiliki modal ideologis yang kuat. Dalam pandangan sebagian besar masyarakat dan elite politik Iran, terutama yang dipengaruhi oleh semangat Revolusi Islam 1979, perjuangan mempertahankan negara dan keyakinan dipandang sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan. Karena itu, pengorbanan dalam membela negara sering dikaitkan dengan nilai-nilai religius yang memberikan semangat juang tinggi. Pandangan ini menjadikan masyarakat Iran relatif tangguh dalam menghadapi tekanan, embargo, maupun ancaman militer dari luar.
Kedua, Iran memiliki kemampuan militer yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Selama beberapa dekade terakhir, negara ini mengembangkan industri pertahanan dalam negeri, termasuk rudal balistik, pesawat nirawak (drone), sistem pertahanan udara, serta berbagai teknologi militer lainnya. Keterbatasan akibat embargo justru mendorong Iran untuk membangun kemandirian teknologi pertahanan. Selain itu, militer Iran memiliki pengalaman panjang dalam berbagai konflik dan latihan bersama dengan sejumlah negara mitra.
Iran juga dikenal memiliki strategi pertahanan yang menekankan kemampuan serangan balasan. Karena itu, setiap ancaman terhadap kedaulatan negara tersebut biasanya direspons dengan pernyataan bahwa Iran akan membalas setiap bentuk agresi. Sikap inilah yang membuat banyak pihak mempertimbangkan secara serius konsekuensi dari setiap tindakan militer terhadap Iran.
Ketiga, dari sisi ekonomi, Iran menunjukkan kemampuan bertahan yang cukup kuat meskipun menghadapi sanksi dan embargo internasional selama bertahun-tahun. Perekonomian Iran memang mengalami tekanan, tetapi negara tersebut tetap mampu menjalankan roda pemerintahan dan mempertahankan berbagai program sosial. Sektor energi, khususnya minyak dan gas, masih menjadi sumber kekuatan utama ekonomi Iran. Hubungan dagang dengan negara-negara seperti China dan beberapa mitra lainnya turut membantu menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Keempat, Iran memiliki posisi geopolitik yang sangat strategis. Negara ini berada di dekat Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Sebagian besar perdagangan minyak global melewati kawasan tersebut. Setiap gangguan terhadap lalu lintas di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi harga energi dunia dan stabilitas ekonomi internasional. Karena itu, posisi geografis Iran memberikan nilai strategis yang besar dalam percaturan politik global.
Selain itu, kawasan Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab juga memiliki arti penting bagi perdagangan internasional. Ketegangan di wilayah-wilayah tersebut sering kali berdampak pada rantai pasokan global dan harga komoditas dunia. Faktor inilah yang menjadikan Timur Tengah tetap menjadi kawasan yang sangat diperhatikan oleh negara-negara besar.
Kelima, Iran memiliki pengalaman perang yang panjang. Perang Iran-Irak (1980–1988) membentuk karakter pertahanan nasional yang kuat. Konflik tersebut mengajarkan pentingnya kemandirian militer, ketahanan ekonomi, dan mobilisasi nasional dalam menghadapi ancaman eksternal. Pengalaman inilah yang kemudian menjadi fondasi strategi pertahanan Iran hingga saat ini.
Keenam, Iran memiliki jaringan aliansi dan pengaruh regional yang luas. Dalam berbagai kajian geopolitik, jaringan ini sering disebut sebagai “Axis of Resistance” atau Poros Perlawanan. Kelompok-kelompok yang memiliki hubungan politik dan ideologis dengan Iran tersebar di beberapa negara Timur Tengah, seperti Lebanon, Irak, Yaman, Suriah, dan Palestina. Jaringan tersebut menjadi salah satu instrumen pengaruh Iran di kawasan dan memperluas jangkauan strategisnya di luar wilayah nasional.
Ketujuh, Iran memiliki tradisi peradaban yang panjang. Sebagai pewaris peradaban Persia yang berusia ribuan tahun, Iran memiliki identitas nasional yang kuat. Kesadaran historis sebagai bangsa besar menjadi salah satu faktor yang membentuk rasa percaya diri masyarakatnya. Warisan peradaban tersebut juga tercermin dalam kemampuan Iran mempertahankan identitas politik dan budayanya di tengah berbagai tekanan internasional.
Di bidang diplomasi, Iran juga menunjukkan kemampuan membangun hubungan dengan berbagai negara. Kerja sama dengan China, Rusia, Pakistan, Oman, dan sejumlah negara lainnya memberikan ruang gerak yang lebih luas dalam menghadapi tekanan politik maupun ekonomi dari Barat. Diplomasi ini menjadi pelengkap dari strategi pertahanan dan ekonomi yang dijalankan Tehran.
Pada akhirnya, kekuatan Iran tidak hanya terletak pada rudal, drone, atau jumlah tentaranya. Kekuatan terbesar Iran justru berada pada kombinasi antara ideologi, pengalaman sejarah, posisi geopolitik, sumber daya energi, kemampuan teknologi, jaringan aliansi regional, serta identitas nasional yang kuat. Faktor-faktor tersebut menjadikan Iran sebagai salah satu aktor penting di Timur Tengah yang sulit diabaikan oleh Amerika Serikat, Israel, maupun kekuatan-kekuatan besar dunia lainnya.
Hal tersebut menjadi acuan dan pedoman bagi negara kita Indonesia, belajar dari kemandirian iran. Karena patut pula Indonesia punya kemandirian ekonomi dan teknolgi serta kekuatanya pertahan militer seperti Iran. Untuk menjaga eksistensi dan keberanian bangsa kita kedepan. Menciptakan bangsa yang bermatabat serta memiliki kesejajaran bagi bangsa bangsa maju di dunia.
Meskipun demikian, setiap konflik bersenjata selalu membawa risiko kemanusiaan yang besar. Karena itu, penyelesaian melalui diplomasi dan dialog tetap menjadi jalan yang paling baik untuk menjaga stabilitas kawasan dan menghindari penderitaan masyarakat sipil yang tidak terlibat dalam konflik.





