Sumatera Kembali Berduka, Saatnya Kita Serius Menata Lingkungan

 

OKESINERGI.COM-Sumatera Barat kembali menanggung duka mendalam. Hujan lebat yang mengguyur berhari-hari sejak pekan terakhir November 2025 memicu banjir besar dan longsor di berbagai daerah. Puncak bencana terjadi pada 26 November 2025, melanda Padang Pariaman, Agam, Padang Panjang, Tanah Datar, serta sejumlah kabupaten dan kota lainnya.

Gambar dan video yang beredar di media sosial menggambarkan dahsyatnya bencana ini: banjir bandang menyapu jembatan, rumah, dan kendaraan, sementara warga berlarian menyelamatkan diri. Di kawasan Jembatan Kembar Padang Panjang–Silaing Malibau, arus deras meruntuhkan bangunan dan menimbulkan korban jiwa.

BPBD Sumatera Barat pada 1 Desember 2025 mencatat 165 orang meninggal dunia dan 111 orang hilang. Angka ini bersifat sementara dan diperkirakan masih bertambah seiring pencarian lanjutan. Tidak hanya Sumbar, provinsi tetangga seperti Sumatera Utara dan Aceh juga mengalami dampak cuaca ekstrem berupa banjir, longsor, dan kerusakan infrastruktur.

Musibah dan Hikmah yang Tersimpan

Musibah memang bukan kehendak manusia. Namun, Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut tidak lepas dari perbuatan tangan manusia sendiri:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)

Kita tidak dapat menutup mata terhadap fakta bahwa perubahan bentang alam, alih fungsi lahan, penebangan liar, serta kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan telah melemahkan sistem penahan air alami. Ketika hujan ekstrem turun, tanah yang gundul tak lagi mampu menyerap air; aliran sungai tersumbat; bantaran sungai menyempit; dan akhirnya bencana datang tanpa dapat dibendung.

Di sisi lain, musibah ini juga menjadi teguran moral. Ketika perilaku sosial kian jauh dari nilai-nilai kebaikan, ketika korupsi, ketidakadilan, dan kekerasan terus terjadi, sangat mungkin Allah mengingatkan kita agar kembali memperbaiki diri. Kesombongan, merasa paling kuat, dan enggan memohon pertolongan kepada Tuhan hanya membuat manusia semakin rapuh.

Pemimpin dan Kita Semua Harus Berbenah

Bencana ini menegaskan bahwa pemerintah perlu bergerak lebih serius dalam penataan ruang, memperketat izin alih fungsi lahan, memperbaiki sistem mitigasi, dan memperkuat edukasi kebencanaan. Kekuasaan adalah amanah, bukan kebanggaan. Tugas pemimpin adalah melindungi rakyat, bukan sekadar merespons bencana ketika sudah terjadi.

Namun, tanggung jawab ini tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah. Ulama, ninik mamak, tokoh adat, akademisi, media, dan masyarakat harus mengambil peran masing-masing. Budaya menjaga sungai, menanam pohon, mengelola sampah, hingga mengawasi pembangunan adalah bagian dari warisan nilai Minangkabau yang seharusnya terus dijaga:

“Alam takambang jadi guru.”

Jika alam rusak, maka manusialah yang harus bertanya: apa yang telah kita lakukan?

Saatnya Menata Kembali Masa Depan

Musibah besar yang menimpa Sumbar, Sumut, dan Aceh harus menjadi momentum untuk membangun kesadaran baru. Kita tidak boleh hanya berduka, tetapi juga bertindak. Menata ulang kebijakan lingkungan, memperkuat kesiapsiagaan, dan menanamkan nilai kepedulian sosial sejak dini adalah langkah yang harus dilakukan bersama.

Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada para keluarga korban, melindungi masyarakat yang terdampak, dan menjauhkan daerah kita dari bencana serupa di masa yang akan datang. Dan semoga kita mampu mengambil hikmah, memperbaiki diri, serta menjaga amanah sebagai khalifah di muka bumi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *