Oleh;
Roni Faslah,
Dosen STIT SB Pariaman
okesinergi.com- Dalam hidup, manusia sering sibuk mengejar berbagai hal yang terlihat penting, namun lupa menyiapkan sesuatu yang benar-benar menentukan masa depan. Padahal, ada satu kenyataan yang tidak bisa dihindari, hidup ini akan berakhir, dan setelahnya manusia akan diminta pertanggungjawaban. Karena itu, pertanyaan mendasar yang patut kita renungkan adalah sejauh mana kesiapan kita untuk hidup tenang di dunia dan selamat di akhirat?
Islam mengajarkan bahwa keberuntungan hidup bukan sekadar diukur dari banyaknya harta atau tingginya jabatan, melainkan dari kualitas bekal yang dipersiapkan. Dalam konteks ini, ada tiga investasi utama yang perlu dibangun oleh setiap Muslim: ilmu, amal shalih, dan kerja yang halal.
Ilmu sebagai Cahaya Kehidupan
Ilmu adalah fondasi awal dalam membangun kehidupan. Tanpa ilmu, seseorang mudah tersesat dalam pilihan, mudah tertipu oleh informasi, bahkan mudah salah dalam menjalankan agama. Ilmu membimbing manusia agar mampu membedakan yang benar dan yang keliru, yang bermanfaat dan yang merusak.
Al-Qur’an menegaskan bahwa ilmu bukan hanya penting, tetapi juga menjadi sebab diangkatnya derajat manusia: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11). Ayat ini memperlihatkan bahwa ilmu adalah kemuliaan. Namun kemuliaan itu bukan untuk kesombongan, melainkan untuk menjadi petunjuk dalam hidup.
Lebih jauh, Rasulullah SAW menempatkan ilmu sebagai jalan menuju keselamatan akhirat: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim). Maka, menuntut ilmu bukan semata untuk kepentingan dunia, tetapi juga untuk membangun orientasi hidup yang benar. Ilmu yang dicari dengan ikhlas karena Allah akan bernilai ibadah.
Amal Shalih sebagai Bukti Keimanan
Ilmu yang benar harus melahirkan amal. Sebab, ilmu yang tidak diamalkan akan kehilangan ruhnya. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menegaskan bahwa manusia akan merugi jika hidupnya tidak diisi dengan iman dan amal shalih:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih…” (QS. Al-‘Asr: 1–3)
Amal shalih tidak hanya bermakna ibadah ritual seperti shalat, puasa, dan zakat. Amal shalih juga mencakup perilaku sosial: menjaga silaturahmi, membantu yang lemah, berkata baik, jujur, serta menebarkan manfaat.
Menariknya, amal shalih bukan hanya menyiapkan akhirat, tetapi juga membangun ketenangan di dunia. Ketika seseorang terbiasa menolong orang lain, maka ia tidak hanya menguatkan kehidupan sosial, tetapi juga menumbuhkan rasa damai dalam dirinya. Pada titik ini, amal shalih menjadi sumber kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan materi.
Ilmu dan Amal Harus Berjalan Bersama
Ilmu dan amal adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Amal tanpa ilmu berpotensi menyesatkan, sementara ilmu tanpa amal akan menjadi beban. Al-Qur’an memberi peringatan tegas kepada mereka yang hanya pandai berkata, namun tidak melakukan:
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Ash-Shaff: 2)
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa ilmu akan ditanya pada hari kiamat, bukan sekadar dimiliki, tetapi juga bagaimana ia diamalkan: “Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ia ditanya… tentang ilmunya, bagaimana ia mengamalkannya.” (HR. Tirmidzi). Karena itu, ilmu harus melahirkan perubahan, dan amal harus dibangun di atas pemahaman yang benar.
Bekerja Halal: Jalan Kemandirian dan Keberkahan
Selain ilmu dan amal shalih, Islam juga menekankan pentingnya bekerja. Hidup di dunia menuntut manusia untuk berusaha, bukan bermalas-malasan apalagi menggantungkan diri pada orang lain. Rasulullah SAW bersabda: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa memberi lebih mulia daripada meminta. Maka, bekerja bukan hanya kebutuhan ekonomi, tetapi juga jalan membangun martabat dan kemandirian.
Rasulullah SAW juga menegaskan keutamaan rezeki yang diperoleh dari usaha sendiri: “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari). Bekerja yang halal, jujur, dan dilakukan dengan niat yang baik, dapat menjadi ibadah. Sebab, dengan kerja kita dapat menafkahi keluarga, membantu orang lain, dan menghindarkan diri dari perilaku meminta-minta.
Menabung Harta dan Menabung Pahala
Dalam kehidupan, manusia juga perlu memiliki perencanaan. Menabung bukan hanya soal uang, tetapi juga soal pahala. Menabung uang adalah ikhtiar agar masa depan lebih terarah, sedangkan menabung pahala adalah ikhtiar agar akhirat lebih aman.
Allah SWT mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18). Ayat ini menegaskan bahwa seorang mukmin harus berpikir jauh ke depan. Masa depan itu bukan hanya dunia, tetapi juga akhirat.
Pada akhirnya, hidup yang berkualitas bukanlah hidup yang hanya terlihat sukses, tetapi hidup yang benar-benar bermakna. Ilmu adalah cahaya yang membimbing jalan, amal shalih adalah bukti nyata dari iman, dan kerja yang halal adalah jalan menjaga kehormatan dan keberkahan.
Jika ketiga hal ini berjalan seimbang, maka insyaallah manusia tidak hanya meraih ketenangan di dunia, tetapi juga keselamatan di akhirat. Semoga Allah SWT menjaga kita dalam istiqamah: istiqamah dalam menuntut ilmu, istiqamah dalam beramal, dan istiqamah dalam bekerja hingga sampai pada tujuan hidup yang hakiki, yakni bahagia di dunia dan selamat di akhirat.





