Dampak Viralisasi Negatif pada Citra Mapala dan Kepercayaan Orang Tua

OKESINERGI.COMMahasiswa pencinta alam atau yang biasa dikenal dengan (Mapala)merupakan organisasi yang memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai kepedulian lingkungan, keterampilan bertahan hidup, dan pengembangan karakter. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, citra Mapala mulai mengalami penurunan akibat viralisasi negatif yang tersebar luas di media sosial dan platform digital. Berita-berita yang menyoroti insiden kecelakaan, tindakan tidak disiplin atau konflik internal sering kali menjadi konsumsi publik yang akhirnya berdampak pada persepsi masyarakat, khususnya orang tua mahasiswa.

Viralisasi negatif ini memicu kekhawatiran besar di kalangan orang tua. Mereka mulai meragukan keamanan dan manfaat kegiatan yang diikuti oleh anak-anak mereka dalam organisasi Mapala. Ketakutan akan risiko kecelakaan atau hal-hal tidak menyenangkan lainnya membuat orang tua cenderung melarang anaknya untuk aktif dalam organisasi ini. Dampak ini sangat signifikan karena dukungan orang tua merupakan salah satu faktor penting dalam keberlangsungan dan semangat mahasiswa untuk bergabung dan berkontribusi dalam Mapala.

Media sosial sebagai sarana penyebaran informasi yang cepat dan luas turut memperkuat dampak viralisasi negatif. Berita yang belum tentu lengkap atau terverifikasi sering kali menyebar tanpa filter, sehingga menimbulkan stigma negatif yang melekat pada Mapala. Bahkan, komentar dan opini publik yang cenderung negatif semakin memperburuk citra organisasi ini di mata masyarakat luas. Hal ini membuat Mapala harus bekerja ekstra keras untuk membangun kembali reputasi yang sudah mulai terkikis.

Dampak langsung dari viralisasi negatif ini adalah penurunan jumlah anggota baru yang bergabung dengan Mapala. Banyak mahasiswa yang awalnya tertarik akhirnya ragu untuk bergabung karena tekanan dari orang tua atau kekhawatiran pribadi. Organisasi pun mengalami kesulitan dalam menjalankan program-program lingkungan dan petualangan yang selama ini menjadi ciri khas mereka. Selain itu, dukungan finansial dan logistik dari berbagai pihak juga menurun akibat citra yang kurang baik.

Namun, bukan berarti situasi ini tidak bisa diperbaiki. Mapala dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk memulihkan kepercayaan orang tua dan masyarakat. Peningkatan standar keselamatan, transparansi dalam pengelolaan kegiatan, serta komunikasi yang terbuka dan rutin dengan orang tua menjadi kunci utama. Selain itu, kampanye positif dan edukasi tentang manfaat serta kontribusi Mapala terhadap pelestarian alam dapat membantu mengubah persepsi negatif menjadi lebih positif.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *