Oleh:
Dr. H. Roni Faslah, M.A.
Dosen Tauhid Ilmu Kalam,
Wakil Ketua PCNU Padang Pariaman
okesinergi.com — Setiap tanggal 1 Muharram, umat Islam memasuki tahun baru dalam kalender hijriah. Pergantian tahun ini bukan sekadar pergantian angka dalam penanggalan, melainkan momentum untuk mengenang kembali salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Islam, yaitu hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Peristiwa hijrah menjadi titik balik perkembangan Islam dan melahirkan peradaban yang memberikan pengaruh besar bagi perjalanan umat manusia.
Karena itu, Tahun Baru Islam sesungguhnya mengandung pesan yang sangat relevan bagi kehidupan umat Islam masa kini. Hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga sebagai perubahan menuju keadaan yang lebih baik. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Ayat tersebut menegaskan bahwa perubahan merupakan sebuah keniscayaan yang harus dimulai dari kesadaran diri. Tidak ada kemajuan tanpa kemauan untuk berubah. Dalam konteks inilah semangat hijrah menjadi sangat penting untuk terus dihidupkan dalam kehidupan umat Islam.
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa nilai hijrah sangat ditentukan oleh niat. Beliau bersabda:
“Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengajarkan bahwa hijrah bukan hanya persoalan perubahan lahiriah, tetapi lebih jauh merupakan transformasi batin yang didasari oleh keikhlasan dan ketundukan kepada Allah SWT.
Lebih jauh, semangat hijrah tidak hanya relevan bagi individu, tetapi juga bagi keluarga, kelompok, lembaga, instansi, organisasi kemasyarakatan, bahkan bangsa secara keseluruhan. Dalam bidang pendidikan, hijrah berarti meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mutu pembelajaran, dan karakter generasi muda. Dalam bidang sosial, hijrah diwujudkan melalui penguatan solidaritas dan kepedulian terhadap sesama. Dalam bidang keagamaan, hijrah dilakukan dengan memperkuat nilai-nilai keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia. Demikian pula dalam bidang ekonomi, politik, hukum, dan berbagai aspek kehidupan lainnya, semangat hijrah harus melahirkan tata kelola yang lebih baik, lebih adil, dan lebih bermartabat.
Bagi organisasi kemasyarakatan seperti Nahdlatul Ulama, semangat hijrah harus menjadi energi untuk memperkuat pelayanan kepada umat, mengembangkan pendidikan, meningkatkan dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah, serta memperkuat pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat. Dengan demikian, hijrah tidak berhenti pada tataran simbolik, tetapi benar-benar melahirkan perubahan yang nyata bagi kemaslahatan umat.
Momentum Tahun Baru Islam juga menjadi saat yang tepat untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri. Kesibukan kehidupan sering kali membuat manusia lupa untuk menilai perjalanan hidupnya. Padahal, setiap pergantian waktu sesungguhnya merupakan pengingat bahwa umur semakin berkurang dan kesempatan beramal semakin terbatas.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18).
Ayat ini mengajarkan pentingnya introspeksi diri. Muhasabah diperlukan agar manusia tidak lalai terhadap amal yang telah dikerjakan. Sejalan dengan itu, Sayyidina Umar bin Khattab RA pernah berpesan:
“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum amalmu ditimbang.”
Pesan tersebut mengandung makna bahwa setiap muslim harus memiliki kesadaran untuk mengevaluasi dirinya sebelum menghadapi perhitungan amal di hadapan Allah SWT.
Pergantian tahun hijriah juga hendaknya disambut dengan hati yang penuh harapan akan rahmat dan ampunan Allah SWT. Setiap manusia tidak terlepas dari kesalahan, dosa, dan kekhilafan. Oleh karena itu, momen pergantian tahun menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak istighfar, bertaubat, dan memohon ampunan atas segala kesalahan yang telah dilakukan selama ini.
Tradisi membaca doa akhir tahun dan doa awal tahun memiliki makna spiritual yang mendalam. Melalui doa tersebut, kita memohon kepada Allah SWT agar segala dosa dan kesalahan pada tahun yang telah berlalu diampuni, serta memohon perlindungan, keselamatan, keberkahan, dan kebaikan pada tahun yang akan datang. Harapan seorang mukmin adalah agar setiap tahun yang dilalui menjadi lebih baik daripada tahun sebelumnya.
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa hakikat hijrah pada masa kini adalah meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, keburukan akhlak, dan kelalaian menuju kehidupan yang lebih dekat kepada Allah SWT. Hijrah bukan hanya perpindahan fisik, tetapi juga perubahan sikap, perilaku, dan karakter menuju pribadi yang bertakwa.
Keistimewaan Tahun Baru Islam juga tercermin dari pengakuan negara yang menetapkan 1 Muharram sebagai hari libur nasional. Hal ini menunjukkan bahwa Tahun Baru Islam memiliki arti penting dalam kehidupan bangsa Indonesia yang religius dan menjunjung tinggi nilai-nilai keberagamaan. Penetapan tersebut bukan hanya memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk memperingati dan menghayati makna hijrah, tetapi juga menjadi simbol penghormatan negara terhadap nilai-nilai agama dalam kehidupan berbangsa.
Di sisi lain, momentum 1 Muharram juga menjadi sarana untuk memperkuat kerukunan antarumat beragama. Meskipun merupakan hari besar umat Islam, keberadaannya sebagai hari libur nasional memungkinkan seluruh elemen masyarakat ikut merasakan suasana kebersamaan, saling menghormati, dan menghargai perbedaan. Dengan demikian, Tahun Baru Islam tidak hanya membawa pesan spiritual bagi umat Islam, tetapi juga memperkuat persatuan, toleransi, dan harmoni sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Harapan akan pentingnya menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum perbaikan juga sejalan dengan pesan Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nazaruddin Umar. Beliau mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum membangun kehidupan yang lebih damai, maju, dan membawa kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia. Pesan tersebut mengandung makna bahwa semangat hijrah tidak hanya berkaitan dengan kehidupan spiritual umat Islam, tetapi juga harus diwujudkan dalam kehidupan sosial, kebangsaan, dan kemanusiaan. Hijrah hendaknya melahirkan budaya kerja yang lebih baik, memperkuat persatuan, menumbuhkan toleransi, serta mendorong lahirnya berbagai inovasi dan kemajuan demi terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.
Karena itu, malam pergantian tahun hijriah hendaknya diisi dengan berbagai kegiatan yang bernilai ibadah, seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, memperbanyak istighfar, bermuhasabah, mengikuti kajian keislaman, serta memanjatkan doa kepada Allah SWT. Dengan cara demikian, pergantian tahun tidak hanya menjadi peristiwa seremonial, tetapi benar-benar menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pada akhirnya, Tahun Baru Islam bukanlah sekadar perayaan seremonial. Ia adalah momentum refleksi, evaluasi, dan pembaruan komitmen untuk menjadi pribadi, masyarakat, dan bangsa yang lebih baik. Semoga Tahun Baru Islam 1448 H menjadi titik awal bagi kita semua untuk memperkuat keimanan, memperbanyak amal saleh, meningkatkan kepedulian sosial, serta terus berupaya menghadirkan perubahan yang lebih baik bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa, dan negara.





