Menjaga Hati dan Krisis Ketenangan di Era Modern

RONI FASLAH

Dosen STIT SB Padang Pariaman

Bacaan Lainnya

Okesinergi.com – Di tengah kemajuan teknologi dan meningkatnya akses terhadap informasi, manusia modern justru menghadapi problem batin yang semakin kompleks. Kegelisahan, kecemasan, konflik sosial, serta rapuhnya ketahanan moral menjadi fenomena yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan manusia tidak semata-mata bersumber dari kekurangan materi, melainkan juga dari melemahnya dimensi spiritual yang berpusat pada hati.

Dalam perspektif Islam, hati (qalb) merupakan pusat kesadaran manusia. Ia bukan hanya ruang emosi, tetapi juga tempat lahirnya keyakinan, orientasi hidup, dan kemampuan membedakan yang benar dan salah. Al-Qur’an menegaskan bahwa kebutaan yang paling berbahaya bukanlah kebutaan fisik, melainkan kebutaan hati. Allah Swt. berfirman: “Maka sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada” (QS. Al-Hajj: 46). Ayat ini menegaskan bahwa krisis manusia modern sering kali bermula dari tertutupnya hati terhadap petunjuk kebenaran.

Dalam tradisi intelektual modern, pengetahuan cenderung dipahami secara empiris dan rasional. Kebenaran diukur melalui observasi, eksperimen, dan logika. Namun Islam memandang bahwa manusia tidak hanya hidup dengan akal, melainkan juga dengan hati. Hati yang bersih mampu menangkap cahaya petunjuk Allah, sedangkan hati yang kotor akan sulit menerima kebenaran. Di sinilah letak pentingnya tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) sebagai proyek spiritual yang berkelanjutan. Al-Qur’an menyatakan: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya” (QS. Asy-Syams: 9).

Upaya menjaga hati tidak dapat dilepaskan dari disiplin ibadah. Dalam Islam, zikir, shalat, istighfar, serta amal saleh merupakan instrumen utama pembinaan batin. Allah Swt. menegaskan: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang” (QS. Ar-Ra’d: 28). Ketenangan hati, dengan demikian, bukanlah produk kemewahan dunia, melainkan buah dari hubungan spiritual yang kokoh dengan Allah. Nabi Muhammad ﷺ pun mengingatkan bahwa kualitas manusia ditentukan oleh kualitas hatinya: “Dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks sosial, hati yang terjaga melahirkan pribadi yang stabil secara moral. Ia cenderung ridha terhadap ketetapan Allah, sabar dalam ujian, serta bersyukur dalam nikmat. Al-Qur’an menyatakan: “Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim: 7). Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa kehidupan seorang mukmin selalu bernilai kebaikan: ketika mendapatkan nikmat ia bersyukur, dan ketika diuji ia bersabar (HR. Muslim). Sikap ini bukan sekadar etika personal, melainkan fondasi penting bagi ketahanan sosial, karena mengurangi kecenderungan manusia menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, bahkan menyalahkan Tuhan.

Sebaliknya, hati yang jauh dari Allah akan mudah diliputi kegelisahan. Ketika zikir ditinggalkan, shalat dilalaikan, dan maksiat menjadi kebiasaan, hati akan mengalami kegelapan. Al-Qur’an memperingatkan: “Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit” (QS. Thaha: 124). “Kehidupan sempit” tidak hanya bermakna kesulitan ekonomi, tetapi juga keterhimpitan batin, hilangnya kedamaian, serta meningkatnya konflik internal dan sosial.

Dalam realitas kehidupan, musibah juga dapat dipahami sebagai peringatan agar manusia kembali kepada Allah. Kesulitan keluarga, tekanan ekonomi, konflik sosial, atau kegagalan hidup dapat menjadi pintu introspeksi. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika seseorang terus bermaksiat namun merasa aman, seolah tidak ada konsekuensi. Dalam literatur keislaman, kondisi ini dikenal sebagai istidraj, yakni penangguhan yang dapat menjerumuskan manusia tanpa ia sadari.

Selain itu, Islam menempatkan dunia sebagai sarana ibadah, bukan tujuan akhir. Kekayaan tidak dilarang, tetapi harus dikelola sebagai amanah. Al-Qur’an menegaskan: “Infakkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu sebagai penguasanya” (QS. Al-Hadid: 7). Kaya dan miskin bukan ukuran kemuliaan, sebab kemuliaan sejati ditentukan oleh ketakwaan: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa” (QS. Al-Hujurat: 13).

Pada akhirnya, menjaga hati adalah agenda utama manusia dalam meraih kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan bukan semata pencapaian material, melainkan ketenteraman jiwa yang lahir dari iman, ibadah, dan kesucian batin. Al-Qur’an mengingatkan bahwa waktu adalah modal kehidupan dan manusia akan merugi bila tidak mengisinya dengan iman dan amal saleh (QS. Al-‘Ashr: 1–3). Karena itu, merawat hati melalui zikir, shalat, istighfar, serta amal kebajikan merupakan jalan strategis untuk membangun manusia yang kuat secara spiritual, stabil secara moral, dan sehat secara sosial.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *