Isra mi’raj sifat penyantun dalam kehidupan sehari-hari bukan sekadar tema peringatan tahunan, melainkan nilai akhlak yang relevan menjawab kegelisahan manusia modern. Peristiwa Isra Mi’raj mengandung pesan spiritual yang dalam, terutama tentang bagaimana Rasulullah ﷺ menampilkan sifat penyantun, lembut, dan penuh empati dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Nilai ini menjadi penawar hati gelisah dan panduan membangun ketenangan jiwa dalam Islam.
Makna Isra Mi’raj dan Relevansinya bagi Akhlak Muslim
Isra Mi’raj adalah perjalanan luar biasa Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha dalam satu malam. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an:
> “Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa…”
(QS. Al-I
Para ulama menjelaskan bahwa Isra Mi’raj bukaon hanya mukjizat fisik, tetapi juga pendidikan ruhani. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa perjalanan ini menunjukkan kemuliaan akhlak Nabi ﷺ sebagai hamba yang taat, sabar, dan penyantun meski sebelumnya mengalami tekanan berat di Thaif dan wafatnya Khadijah r.a.
Di sinilah letak relevansinya: sebelum menerima perintah salat, Nabi ﷺ ditempa dengan kesabaran dan kelapangan hati. Ini menjadi pelajaran penting bahwa ketenangan jiwa dalam Islam lahir dari akhlak yang lembut dan hubungan yang kuat dengan Allah.
isra mi’raj sifat penyantun dalam kehidupan sehari-hari sebagai Teladan Akhlak
Salah satu pesan utama Isra Mi’raj adalah bagaimana Rasulullah ﷺ mempraktikkan sifat penyantun dalam kehidupan sehari-hari. Penyantun berarti mampu menahan amarah, bersikap lembut, dan tidak tergesa-gesa dalam merespons keburukan.
Allah berfirman:
> “Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”
(QS. Ali Imran: 159)
Ayat ini menegaskan bahwa kelembutan adalah kunci keberhasilan dakwah dan hubungan sosial. Rasulullah ﷺ menghadapi cacian, penolakan, bahkan kekerasan, namun tetap memilih memaafkan. Sikap inilah yang seharusnya diteladani umat Islam, terutama di tengah kehidupan yang penuh tekanan.
Mengingat Allah sebagai Sumber Kelembutan Hati
Zikir Penenang Hati dalam Perspektif Islam
Sifat penyantun tidak lahir dari kekosongan spiritual. Ia tumbuh dari hati yang senantiasa mengingat Allah. Al-Qur’an menegaskan:
> “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Zikir penenang hati membantu seseorang mengendalikan emosi, meredam amarah, dan menjaga lisan dari ucapan menyakitkan. Dalam konteks Isra Mi’raj, perintah salat menjadi sarana utama zikir harian yang menjaga koneksi manusia dengan Rabb-nya
Ulama seperti Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati yang sering berzikir akan lebih mudah menerima kebenaran dan bersikap lembut kepada sesama. Inilah fondasi ketenangan jiwa dalam Islam.
Hati Gelisah dalam Pandangan Islam dan Solusinya
Hati gelisah dalam pandangan Islam sering muncul akibat jauhnya manusia dari nilai ilahiah. Kesibukan dunia, konflik sosial, dan tekanan hidup membuat banyak orang mudah tersulut emosi.
Sifat penyantun yang dicontohkan Rasulullah ﷺ menjadi solusi praktis. Dengan memperbanyak zikir, menjaga salat, dan meneladani akhlak Nabi, kegelisahan dapat diurai perlahan. Isra Mi’raj mengajarkan bahwa naiknya derajat manusia bukan diukur dari materi, tetapi dari kualitas akhlak dan kedekatan dengan Allah.
Contoh Penerapan Sifat Penyantun dalam Kehidupan Sehari-hari
Nilai isra mi’raj sifat penyantun dalam kehidupan sehari-hari dapat diterapkan secara nyata, antara lain:
1. Dalam keluarga: Menghadapi perbedaan pendapat dengan pasangan atau anak tanpa emosi berlebihan, memilih dialog yang lembut.
2. Di tempat kerja: Menyikapi kritik atau konflik dengan rekan kerja secara profesional dan tidak reaktif.
3. Di ruang digital: Menahan diri dari komentar kasar, menyebarkan pesan yang menyejukkan.
4. Dalam ibadah sosial: Membantu sesama tanpa menghakimi, sebagaimana Rasulullah ﷺ mengedepankan empati.
Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa sifat penyantun bukan konsep abstrak, melainkan akhlak yang aplikatif dan relevan sepanjang zaman.
Penutup: Menjadikan Isra Mi’raj sebagai Jalan Ketenangan Jiwa
Pada akhirnya, isra mi’raj sifat penyantun dalam kehidupan sehari-hari adalah pesan abadi bagi umat Islam. Peristiwa agung ini mengajarkan bahwa perjalanan spiritual sejati tercermin dari akhlak yang lembut, hati yang tenang, dan lisan yang terjaga. Dengan mengingat Allah, memperbanyak zikir penenang hati, serta meneladani Rasulullah ﷺ, kegelisahan hidup dapat berubah menjadi ketenangan jiwa dalam Islam yang hakiki.
Menjadikan nilai Isra Mi’raj sebagai pedoman akhlak bukan hanya memperbaiki hubungan dengan Allah, tetapi juga menghadirkan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.





