Bukan Sekadar Penjaga Ulama, BANSER NU Padang Pariaman Terbukti Jadi Benteng Relawan Kemanusiaan Saat Bencana

PADANG PARIAMAN – Ada pemandangan yang menggetarkan hati di tengah kemeriahan Hari Jadi Kabupaten Padang Pariaman yang ke-193 pada Minggu (11/01/2026). Di tengah barisan pejabat dan tokoh masyarakat, seragam loreng khas Barisan Ansor Serba Guna (BANSER) Nahdlatul Ulama berdiri tegak untuk menerima penghormatan khusus dari Pemerintah Daerah.

​Bupati Padang Pariaman Bpk. DR. H. Jhon Kenedy Aziz, SH, MH secara resmi menyerahkan Sertifikat Penghargaan Relawan Kemanusiaan kepada BANSER NU Padang Pariaman.

Penghargaan ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengakuan atas dedikasi luar biasa mereka dalam aksi tanggap darurat pasca-bencana banjir dan tanah longsor yang sempat melumpuhkan beberapa titik di daerah tersebut.

​Saat bencana melanda, di saat banyak orang menyelamatkan diri, anggota BANSER justru merangsek masuk ke zona merah. Tanpa pamrih, mereka berjibaku dengan lumpur, mengevakuasi warga yang terjebak, hingga mendistribusikan logistik ke pelosok yang sulit dijangkau. Kehadiran BANSER NU di lapangan menjadi simbol harapan bagi masyarakat yang terdampak.

​”Penghargaan ini adalah bentuk apresiasi tertinggi kami kepada BANSER NU. Mereka selalu hadir paling depan saat rakyat membutuhkan, membuktikan bahwa semangat hubbul wathon minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman) benar-benar nyata di Padang Pariaman,” ujar Bupati dalam sambutannya yang disambut riuh tepuk tangan hadirin.

​Namun, di balik penghargaan ini, muncul sebuah pertanyaan besar: _Apa sebenarnya yang memotivasi para pemuda berseragam loreng ini untuk terus bergerak tanpa bayaran, bahkan di medan yang mempertaruhkan nyawa?_ Strategi dan kesiapsiagaan seperti apa yang mereka miliki sehingga selalu menjadi tim tercepat dalam merespons bencana di Padang Pariaman?

​Keberhasilan BANSER NU meraih penghargaan di hari bersejarah ini menandai babak baru sinergi antara ulama, pemuda, dan pemerintah. Bagi masyarakat Padang Pariaman, BANSER bukan lagi sekadar organisasi pemuda keagamaan, melainkan benteng kemanusiaan yang tangguh.*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *