KESELAMATAN DALAM EMPAT SIKAP DARI KEADAAN HIDUP

Dr. Roni Faslah, MA 

Dosen STIT Syekh Burhanuddin Pariaman

Bacaan Lainnya

Okesinergi.com – Kehidupan yang kita jalani tidak selalu sesuai dengan harapan kita. Baik dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, maupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, perjalanan hidup tidak pernah sepenuhnya mulus. Masalah seringkali datang silih berganti dalam kehidupan manusia (QS.Al-Baqarah (2:155), Oleh karena itu, diperlukan sesuatu yang membuat kita tetap kuat dalam menjalani hidup ini.

Memang, kehidupan dunia ini hanya sementara, dan tidak ada yang abadi di dunia ini. Allah berfirman, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran : 3:185)

Kadang kala manusia kehilangan pandangan dan kesadarannya tentang hakikat hidup di dunia ini. Kesadaran dan pandangan ini bergantung pada tiga hal: ilmu pengetahuan yang kita miliki, filosofi hidup yang kita anut, dan agama yang kita yakini. Inilah sesungguhnya kunci dari persoalan hidup di dunia ini. Ketiga hal pokok tersebut memang berperan penting dalam kehidupan, namun pandangan dan kesadaran saja tidak cukup. Latihan dan pengalaman hidup sangat penting karena pikiran, hati, dan pengalaman dapat menjadi kuat jika dilatih melalui ujian hidup (QS. Al-Ankabut:29:2-3)

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang menginginkan masalah dalam hidupnya. Justru masalah itulah yang mengasah ilmu kita, ideologi pandangan kita, dan keyakinan keimanan kita. Dalam kehidupan para nabi, rasul, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, para ulama, dan tokoh besar dunia, tidak ada yang luput dari ujian hidup ini, “Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan.” ( Al-Baqarah :2:214)

Seseorang belum dapat dikatakan beriman jika belum diuji dalam kehidupan ini. Agama mengingatkan kita akan ujian bagi orang beriman, “Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu kesusahan, kepayahan, penyakit, kesedihan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan kesalahannya dengan musibah tersebut.” (HR. Muslim). Lantas, bagaimana seharusnya kita menyikapi hidup ini?

Empat Keadaan Manusia Ada empat keadaan yang dihadapi manusia: keadaan taat, keadaan maksiat, keadaan dalam nikmat, dan keadaan sengsara atau musibah. Keempat keadaan inilah yang harus kita hadapi dalam hidup. Jika kita menyikapi keempat kondisi ini dengan benar, hal tersebut akan menyelamatkan hidup kita.

  1. Menghadapi Ujian dan Musibah

Ketika menghadapi ujian, cobaan, atau masalah yang datang dalam hidup, kunci untuk melewatinya adalah dengan sikap kesabaran, ketabahan, dan keridaan sesuai firman allah di surat Al-Baqarah (2:153): “Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” Kesabaran, keridaan, dan ketabahan diperlukan ketika kita berhadapan dengan kesengsaraan dan musibah yang dialami secara bertubi-tubi. Kehilangan, kesakitan fisik atau batiniah, ketidakharmonisan—itulah ujian hidup. Semua itu harus diterima dengan hati yang tabah dan lapang dada, karena inilah yang menenangkan jiwa kita. Rida dan rela hati terhadap masalah yang Allah datangkan untuk kita adalah sikap yang baik bagi kita.

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun (64:11))

  1. Bersyukur dalam Nikmat

Ketika berada dalam keadaan nikmat yang Allah berikan, sikap terbaik adalah bersyukur. Bersyukur dilakukan dengan menerima nikmat dan rahmat tersebut dengan senang hati, serta mempergunakan nikmat yang Allah berikan untuk kebaikan. Itulah wujud nyata syukur kita kepada Allah SWT. Sesuai dengan firman allah swt. “… Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS. Ibrahim;14:7)

  1. Bertobat dari Maksiat

Dalam menghadapi keadaan maksiat, yang harus dilakukan adalah bertobat. Sikap ini sangat baik bagi kita. Bertobat berarti merasa bersalah, meminta maaf kepada sesama manusia, memohon ampun kepada Allah, dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut lagi An-Nur (24:31) dan At-Tahrim (66:8).Perlu diingat bahwa bertobat dari satu maksiat bukan berarti kita boleh melakukan maksiat yang lain.

  1. Menjaga Ketaatan

Dalam keadaan taat, kita harus senantiasa menyaksikan dan menyadari bahwa ketaatan adalah petunjuk hidayah yang telah Allah berikan kepada kita. Tidak semua orang diberi kemudahan dalam ketaatan ini. Oleh karena itu, kita harus menjaganya dengan menjalankan ibadah secara konsisten, Perkara yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan secara kontinyu meskipun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim). Banyak orang yang lalai atas ketaatan ini. Mereka diberikan tubuh yang sehat tetapi tidak digunakan untuk menyempurnakan ibadah.

Kesimpulan Keempat sikap dalam menghadapi empat keadaan ini sangat penting bagi keselamatan kehidupan di dunia maupun di akhirat. Kita tidak bisa menghindari keempat kondisi ini—yaitu keadaan taat, maksiat, nikmat, dan cobaan. Yang dapat kita lakukan adalah menyikapinya dengan benar sesuai tuntunan agama. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam “Madarijus Salikin” membahas secara mendalam tentang maqamat (tingkatan spiritual) yang mencakup keempat sikap ini seperti syukur, sabar, taubat, dan istiqamah dalam ketaatan.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *