Realitas, Kebenaran, dan Kebijaksanaan: Perspektif Filosofis dan Islam oleh Dr.Roni.f

 

OKESINERGI.COM-Sebuah realitas terjadi dalam kehidupan manusia. Realitas adalah suatu gejala yang muncul dari sesuatu, apakah itu dari manusia maupun yang ditimbulkan oleh alam. Namun, semua yang terjadi mengandung hikmah yang bisa kita ambil sebagai sebuah pelajaran atau pengetahuan yang mengajarkan kita tentang kebenaran.

Kebenaran inilah yang nantinya dapat mendewasakan kita untuk melangkah ke depan agar lebih dewasa, berhati-hati, dan bijaksana. Dalam istilah Minangkabau terdapat pepatah “alam takambang jadi guru” (A.A.Navis; 1984), yang artinya mengambil pelajaran dari alam.

Masalah sosial yang terjadi menjadi sebuah ilmu sosial, bagaimana dinamika yang menjadi sebuah petunjuk bahwa ada sebab-akibat dari munculnya masalah. Dengan melihat masalah secara rasional dan objektif, maka lahirlah kebenaran ilmu pengetahuan dari situ.

Sebaliknya, ilmu yang lahir dari keberpihakan atau ketidakbenaran akan melahirkan pengetahuan yang semu. Pengetahuan seperti itu tidak objektif dan rasional, sehingga tidak dapat bertahan dan secara alamiah akan hilang. Retorika yang baik tetapi isinya kebohongan adalah pembohongan publik. Masalah ini sudah terjadi pada kaum Sofis dalam sejarah peradaban Yunani, di mana filosof Sokrates menentangnya (Plato; 2002)

Kaum Sofis melakukan hal tersebut untuk mendapatkan keuntungan materi. Namun, Sokrates menentangnya dengan menyuguhkan dialektika atau dialog untuk mencapai kebenaran. Di sana ada kritisisme, ada rasionalitas, ada fakta, sehingga melahirkan kebenaran sejati. Bangunan epistemologi telah dibangun oleh Sokrates untuk mencapai kebenaran.

Kebijaksanaan tersebut justru menjadi pijakan bagi kita untuk berbuat dan menyelesaikan masalah. Namun, dalam kehidupan kita hari ini, kadang kala apa yang dilakukan oleh seseorang yang dikatakan bijaksana tidak lagi berpijak pada apa yang diajarkan filosof tersebut. Ini yang patut kita sayangkan. Jadi, persoalan ini penting kita jadikan pedoman dari sosok filosof Sokrates, karena untuk membangun sebuah bangsa kita membutuhkan pemimpin yang bijaksana, tidak mengikuti hawa nafsu dan kepentingan sesaat. Mewujudkan generasi emas dengan membangun karakter yang berkomitmen pada kebenaran ilmu pengetahuan dan berdasarkan keyakinan agama yang kuat.

Dalam Islam, seorang Muslim harus meluruskan niatnya dengan tulus dan ikhlas karena Allah, apa pun yang akan dikerjakan. Karena ‘ sesungguhnya setiap amalan tergantungniatnya’ (HR.Bukhari dan Muslim). Dahulukan akhirat daripada dunia. Dunia tidak abadi, namun akhirat kita abadi. Bukan kebahagiaan dunia yang kita utamakan, tetapi kebahagiaan akhirat yang abadi yang kita cari (Qs. Al-Qashash;77).

Kembalikan diri kita kepada Allah yang menciptakan segala sesuatu, apakah itu ilmu pengetahuan maupun takdir yang Allah ciptakan untuk kita. Bagi seorang Muslim, tidak hanya melihat masalah dari lahiriahnya saja dalam arti rasional dan empiris, tetapi juga dalam bentuk batiniah, hakikat sesuatu yang bersifat irasional, yang tidak terjangkau oleh kebenaran rasional semata (al-Ghazali ; 2000)

Oleh karena itu, yang menurut kita benar secara rasional belum tentu benar menurut Allah, maupun sebaliknya. Maka, apa yang datang dari manusia itu nisbi atau relatif, tetapi yang datang dari Allah itulah yang mutlak (Nasr; 1987)

Janganlah kita bertengkar karena perbedaan semu atau yang tidak pasti. Perbedaan pemikiran adalah hal yang biasa. Justru dengan perbedaan kita memperkaya khazanah intelektual, karena ilmu muncul dari perbedaan itu sendiri. Perbedaan adalah rahmat Allah bagi manusia, tetapi bisa sebaliknya menjadi bencana jika tidak dapat menyikapi perbedaan dengan bijaksana.

Pandangan inilah yang tentu seorang Muslim harus tanamkan dalam dirinya, agar terciptanya perdamaian dan ketentraman bagi manusia di bumi ini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *