OKESINERGI.COM-Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia karena pada bulan ini Al-Qur'an diturunkan. Pada malam 17 Ramadhan, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira'. Wahyu tersebut dimulai dengan ayat pertama Iqra’ (Bacalah), yaitu Surah Al-‘Alaq ayat 1-5.
Di Indonesia, tanggal 17 Ramadhan telah menjadi tradisi sebagai peringatan Nuzulul Qur'an. Peringatan ini biasanya diisi dengan kegiatan ceramah atau kajian Islam yang membahas tentang turunnya Al-Qur'an. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan kecintaan umat Islam terhadap Al-Qur'an.
Sebagai umat Islam, kita tidak boleh memperlakukan Al-Qur'an dengan sembarangan, seperti meletakkannya di tempat yang kotor atau membiarkannya rusak. Tidak pantas pula jika ada yang sengaja menginjaknya dengan alasan bahwa Al-Qur'an hanyalah sekadar tulisan atau simbol. Dalam ilmu kalam, memang ada perdebatan tentang apakah Al-Qur'an itu qadim (tidak diciptakan) atau makhluk (diciptakan), tetapi bagaimanapun juga, prilaku baik kita pada Al-Qur'an adalah bagian dari akhlak yang mulia.
Al-Qur'an adalah kitab suci terakhir yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, setelah kitab Zabur, Taurat, dan Injil. Sebagai sumber utama ajaran Islam setelah hadits Nabi SAW, Al-Qur'an berfungsi sebagai pedoman dalam menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan manusia.
Namun, Al-Qur’an bukan hanya petunjuk bagi umat Islam semata. Quraish Shihab, dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an (1999), menjelaskan bahwa Al-Qur’an mengandung nilai-nilai universal, seperti etika sosial, keadilan, dan kasih sayang, yang dapat menjadi pedoman bagi seluruh manusia.
Orang yang mencintai Al-Qur'an akan memperlakukannya dengan penuh penghormatan, meletakkannya di tempat yang tinggi dan bersih, membacanya setiap hari, memahami maknanya, serta mengamalkan ajarannya. Hal ini akan mendekatkan kita kepada Allah SWT.
Jika seorang hamba mencintai Allah, maka Allah juga akan mencintainya. Dengan memuliakan Al-Qur'an yang berisi firman-Nya, Allah akan menjaga perkataan dan perbuatan kita. Oleh karena itu, berprasangka baiklah kepada Allah, karena Dia akan menyesuaikan perlakuan-Nya dengan prasangka hamba-Nya.
Dalam Hadis Qudsi, Rasulullah bersabda:
"Allah berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap-Ku. Jika ia berprasangka baik, maka baginya kebaikan. Jika ia berprasangka buruk, maka baginya keburukan." (HR. Bukhari & Muslim)
Hakikat Mencintai Al-Qur'an
Al-Qur'an adalah firman Allah yang menjadi pedoman keselamatan bagi manusia. Oleh karena itu, kita harus berpegang teguh padanya dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh agar pemahaman kita semakin baik. Sayangnya, ada sebagian orang yang merasa bahwa ilmu pengetahuan lebih penting daripada Al-Qur'an, sehingga mereka menjadi lalai terhadapnya. Pemikiran seperti ini tidaklah benar.
Al-Qur'an bukan sekadar tulisan atau bacaan, melainkan harus menjadi bagian dari diri kita dengan mencintainya sepenuh hati. Tidak ada gunanya jika Al-Qur'an hanya dibaca dan ditulis, tetapi tidak merasuk dalam jiwa dan tidak diyakini kebenarannya. Bahkan ada orang non-Muslim yang hafal Al-Qur'an dan pandai menulisnya, tetapi tidak mendapatkan petunjuk dan hidayah.
Mencintai Al-Qur’an bagian dari keimanan kita kepada Allah. Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Al-Gazali menjelaskan dalam bentuk dari kecintaan kita kepada Al-Qur’an adalah membaca dengan hati yang khusuk dan melakukan perenungan, agar mendapat hikmah atau petunjuk, karena Al-Qur’an sebagai pedoman dan sumber ilmu pengetahuan.
Dalam kitab, Ibnu Qayyim, Madarij as-Salikin, (1998), menyebutkan bahwa "Barang siapa yang ingin mengetahui sejauh mana kecintaannya kepada Allah, maka lihatlah kecintaannya terhadap Al-Qur’an. Sebab, ia adalah firman Allah, dan seseorang yang mencintai seseorang pasti mencintai perkataannya." Mencintai Al-Qur'an adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Cinta kepada Al-Qur'an berarti mencintai Allah SWT. Orang yang mencintai Al-Qur'an akan menjadikannya sebagai sumber keindahan, media zikir, pedoman, serta sumber ilmu pengetahuan. Dengan mengamalkan Al-Qur'an, seseorang akan memiliki akhlak yang mulia.
Al-Qur'an dalam Seni
Al-Qur'an juga melahirkan seni. Dalam kitab, As-Suyuthi, Al Itqan fi Ulum Al-Qur’an. Beirut, menerangkan Al-Qur’an adalah mukzijat yang besar yang diberikan kepada Muhammad SAW. yang keindahan bahasa (sastra) dan strukturnya yang tidak bisa ditiru oleh manusia. Maka selain menjadi pedoman hidup, juga melahirkan seni keindahan dalam bahasa yang penuh makna. Lantunan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca oleh qori dan qoriah terdengar merdu dan menenangkan hati. Dalam seni kaligrafi, ayat-ayat Al-Qur'an ditulis dengan indah. Seni dalam Islam adalah bagian dari potensi manusia yang dapat dikembangkan. Oleh karena itu, berbagai perlombaan seperti tilawah dan kaligrafi sering diadakan sebagai bentuk kecintaan umat Islam terhadap Al-Qur'an. Seni ini tidak hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga memperkuat keyakinan kepada Allah SWT.
Al-Qur'an sebagai Media Zikir
Membaca Al-Qur'an adalah salah satu bentuk zikir yang mengingatkan kita kepada Allah SWT. Dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang. Membaca Al-Qur'an mendekatkan kita kepada-Nya serta menjaga diri dari kecintaan berlebihan terhadap dunia. Para wali Allah telah mencontohkan bahwa Al-Qur'an adalah jalan menuju ma'rifatullah (mengenal Allah SWT secara mendalam).
Al-Qur'an sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan
Al-Qur'an adalah sumber ilmu yang terus digali dan memberikan manfaat bagi seluruh makhluk-Nya. Semakin dipelajari, semakin banyak pengetahuan yang dapat diperoleh. Oleh karena itu, Al-Qur'an disebut sebagai falsafah Ilahi, karena darinya lahir berbagai disiplin ilmu yang bersifat universal dan rinci.
Al-Qur'an juga menjadi hujah dalam menyelesaikan persoalan kehidupan manusia. Secara normatif, kita wajib menaati dan mengimani Al-Qur'an agar selamat dunia dan akhirat. Bagi yang ingin mendalami ilmu agama, penting untuk memahami berbagai disiplin ilmu terkait Al-Qur'an, seperti ‘Ulumul Qur'an, ilmu bahasa Arab (nahwu dan sharf), ilmu tafsir, serta asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat). Selain itu, memahami cara membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar, seperti ilmu tajwid dan makhraj, juga sangat diperlukan.
Di dalam Al-Qur'an terdapat sejarah, berita tentang hari akhir, peringatan tentang surga dan neraka, hukum-hukum kehidupan, akhlak, tauhid, nilai pendidikan, ekonomi, politik, dan berbagai aspek kehidupan lainnya. Al-Qur'an juga menjelaskan hakikat Tuhan, manusia, dan alam semesta. Kisah-kisah dalam Al-Qur'an bukanlah dongeng, melainkan kisah nyata yang penuh hikmah dan kebenaran.
Al-Qur'an Melahirkan Akhlak Mulia
Mencintai Al-Qur'an melahirkan akhlak yang mulia, dalam bukunya Al-Khasais Al-‘Ammah lil Islam, (1977) Syekh Yusuf Al-Qaradawi, ia menyebutkan bahwa Al-Qur’an membangun karakter Muslim yang seimbang antara spiritual, intelektual, dan sosial. Sebagaimana akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Qur'an. Sebuah riwayat, Aisyah RA pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah SAW, maka beliau menjawab:"Akhlak beliau adalah Al-Qur’an." (HR. Muslim). Ini menunjukan bahwa Jiwa dan pikirannya dipenuhi oleh cahaya Al-Qur'an, sehingga beliau dijuluki sebagai “Al-Qur'an yang berjalan.” Seluruh perkataan dan perbuatan beliau selaras dengan ajaran Al-Qur'an, menjadikannya manusia yang paling mulia. Para ulama bahkan menyebut Nabi SAW sebagai insan kamil (manusia sempurna).
Allah berfirman dalam QS. Al-Qalam (68:4)
ÙˆَاِÙ†َّÙƒَ Ù„َعَÙ„ٰÙ‰ Ø®ُÙ„ُÙ‚ٍ عَظِÙŠْÙ…ٍ Ù¤
wa innaka la‘alâ khuluqin ‘adhîm
“Dan Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”.
Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim memiliki tanggung jawab besar untuk menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur'an. Dengan menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup, kita akan menjadi Muslim yang taat, menjauhi kemungkaran, dan berakhlak mulia. Dari sinilah akan lahir generasi yang memiliki karakter yang baik, sehingga bangsa ini menjadi lebih baik di masa depan.
OLEH : DR. H. RONI FASLAH, MA
Editor : Robi hirawan M.Pd